Baru Update. .
Selamat Datang !
Selamat Datang di webblog resmi Pendidikan Teknik Mesin 2012 (KAMPUS PALEMBANG).

Perpustakaan Online

Search results

Showing posts with label materi. Show all posts
Showing posts with label materi. Show all posts

TSM - Cara kerja Mesin 4 Tak Bensin

Sunday, April 14, 2013



ini adalah ilmu yang teman2 mahasiswa Pendidikan teknik mesin Universitas Sriwijaya harus ketahui.Tapi bukan cuma itu aja, pasti teman2 akan belajar mesin lain juga seperti motor listrik AC/DC, mesin diesel, mesin 2 tak, dll. Banyak banget yang akan kalian pelajari tentang konversi energi.



Karburator                        : Berfungsi membuat bahan bakar menjdi kabut.
TMA (Titik Mati Atas)      : Adalah titik henti piston bergerak ke atas.
TMB (Titik Mati Bawah    : Adalah titik henti piston bergerak kebawah.



 
1. Langkah Hisap
Pada gerak hisap, campuran udara dan bensin akan terhisap dari karburator melawati katup masuk menuju silinder. Hal ini terjadi sebab tekanan di dalam lebih rendah dari tekanan udara luar. Piston dalam gerakan turun dari TMA ke TMB menyebabkan kehampaan di dalam silinder, dengan demikian campuran udara bensin dihisap ke dalam. Selama langkah piston ini, katup hisap akan membuka dan katup buang menutup.











2. Langkah Kompresi
Dalam gerakan ini campuran udara dan bensin yang ada dalam silinder dikompres/dimampatkan oleh piston yang bergerak ke atas dari TMB ke TMA. Kedua katup hisap dan katup buang akan menutup selama gerakan tekanan, dan suhu campuran udara dan bensin menjadi naik.














3. Langkah Kerja
Dalam langkah ini kedua katup tertutup. Bila campuran udara dan bensin yang terkompresi dalam silinder terkena percikan listrik dari busi, maka terjadi ledakan dalam silinder sehingga tenaga yang kuat ini akan mendorong piston dari TMA  ke TMB. Tenaga inilah yang dimanfaatkan untuk memutar roda gila.











4. Langkah Buang
Dalam langkah ini piston dari TMB naik kembali ke TMA untuk mendorong sisa gas-gas yang telah terbakar dari silinder melewati katup buang menuju knalpot. Selama gerak ini kerja katup buang saja yang terbuka. Bila piston mencapai TMA sesudah melakukan pekerjaan seperti di atas, maka piston akan kembali pada keadaan untuk memulai gerak hisap.










KARAKTER MESIN
Dalam komposisi displacement mesin yang sama, tiap mesin memiliki karakter yang berbeda-beda, tergantung dari besaran diameter piston dan panjang langkah.
- Mesin OverBore     : Langkah lebih kecil daripada diameter piston.
- Mesin Square         :Langkah dan diameter piston sama.
- Mesin OverStroke  :Langkah lebih besar daripada diameter piston.
Dibanding dengan mesin langkah panjang dan square, mesin over bore lebih mudah untuk membuat kecepatan mesin bertambah dan tenaga yang dihasilkan bisa lebih besar. Jika kecepatan mesin rata, kecepatan piston dapat dibuat lebih rendah juga hambatan gesek dapat dikurangi. Pada mesin balap desain mesin ini lebih sering unggul. Oleh karenanya modifikasi BoreUp , atau memperbesar diameter piston lebih mudah menciptakan kecepatan dan tenaga dibanding StrokeUp.
Jadi gitu penjelasan singkat dari saya semoga bermanfaat ,mudah-mudahan untuk mesin lainnya nanti saya jelaskan.


FB Comment's Box

K3-MANAJEMEN RESIKO


MANAJEMEN RESIKO


Penerapan Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di tempat kerja merupakan upaya utama dalam mewujudkan lingkungan kerja yang aman, nyaman dan sehat serta melindungi dan meningkatkan pemberdayaan pekerja yang sehat, selamat dan berkinerja tinggi. Sekedar mengetahui dan memahami tujuan yang akan dicapai, tanpa melaksanakan tindakan nyata dalam aspek higiene perusahaan, ergonomi, kesehatan dan keselamatan kerja, bukan merupakan cara yang tepat untuk mengatasi kemungkinan terjadinya akibat negatif di tempat kerja.

Berkaitan dengan uraian diatas, strategi penerapan manajemen risiko sesungguhnya sangat dibutuhkan dalam mencapai dan mempertahankan keunggulan suatu organisasi. Berbagai pendekatan sering dilakukan dalam menghadapi risiko dalam organisasi atau perusahaan misalnya:
a)      Mengabaikan risiko sama sekali, karena dianggap merupakan hal yang diluar kendali manajemen. Pendapat tersebut, merupakan cara pendekatan yang tidak tepat, karena tidak semua risiko berada diluar jangkauan kendali organisasi / perusahaan.
b)      Menghindari semua kegiatan atau proses produksi yang memiliki risiko. Hal ini merupakan sesuatu yang tidak mungkin dilaksanakan, karena semua aktivitas ditempat kerja sampai tingkat tertentu selalu mengandung risiko.
c)      Menerapkan Manajemen Risiko, dalam pengertian umum, risiko tinggi yang dihadapi sebenarnnya merupakan suatu tantangan yang perlu diatasi dan melalui suatu pemikiran positif diharapkan akan memberikan nilai tambah atau imbalan hasil yang tinggi pula.

Aspek ekonomi, sosial dan legal merupakan beberapa hal yang berkaitan dengan penerapan manajemen risiko. Dampak finansial akibat peristiwa kecelakaan kerja, gangguan kesehatan atau sakit akibat kerja, kerusakan atau kerugian aset, biaya premi asuransi, moral kerja dan sebagainya, sangat mempengaruhi produktivitas. Demikian juga aspek sosial dan kesesuaian penerapan peraturan perundang undangan yang tercermin pada segi kemanusiaan, kesejahteraan dan kepercayaan masyarakat memerlukan penyelenggaraan manajemen risiko yang dilaksanakan melalui partisipasi pihak terkait.

Pada prinsipnya manajemen risiko merupakan upaya mengurangi dampak negatif risiko yang mengakibatkan kerugian pada asset organisasi baik berupa manusia, material, mesin, metoda, hasil produksi maupun finansial. Secara sistematik dilakukan pengendalian potensi bahaya serta risiko dalam proses produksi melalui aktivitas :
a)      Identifikasi potensi bahaya
b)      Penilaian risiko sebagai ak ibat manifestasi potensi bahaya
c)      Penentuan cara pengendalian untuk mencegah atau mengurangi kerugian
d)     Penerapan teknologi pengendalian
e)      Pemantauan dan pengkajian selanjutnya

Potensi Bahaya dan Risiko
Potensi bahaya atau hazard merupakan segala hal atau sesuatu yang mempunyai kemungkinan mengakibatkan kerugian pada manusia, harta benda maupun lingkungan.
Ditempat kerja, potensi bahaya sebagai sumber risiko khususnya terdapat keselamatan dan kesehatan di perusahaan akan selalu dijumpai, antara lain berupa :
1.      Faktor fisik : kebisingan, cahaya, radiasi, vibrasi, suhu, debu
2.      Faktor kimia : solven, gas, uap, asap, logam berat
3.      Faktor biologik : tumbuhan, hewan, bakteri, virus
4.      Aspek ergonomi : desain, sikap dan cara kerja
5.      Stresor : tekanan produksi, beban kerja, monotoni, kejemuan
6.      Listrik dan sumber energi lainnya
7.      Mesin, peralatan kerja, pesawat
8.      Kebakaran, peledakan, kebocoran
9.      Tata rumah tangga (house keeping)
10.  Sistem Manajemen peusahaan
11.  Pelaksana / manusia : perilaku, kondisi fisik, interaksi

Risiko adalah manifestasi atau perwujudan potensi bahaya (hazard event) yang mengakibatkan kemungkinan kerugian menjadi lebih besar, tergantung dari cara pengelolaannya, tingkat risiko mungkin berbeda dari yang paling ringan atau rendah sampai ke tahap yang paling berat atau tinggi. Melalui analisis dan evaluasi semua potensi bahaya dan risiko, diupayakan tindakan minimalisasi atau pengendalian agar tidak terjadi bencana atau kerugian lainnya.
Rincian langkah umum yang biasanya dilaksanakan dalam penilaian risiko meliputi :
1.      Menentukan personil penilai
Penilai risiko dapat berasal dari intern perusahaan atau dibantu oleh petugas lain diluar perusahaan yang berkompeten baik dalam pengetahuan, kewenangan maupun kemampuan lainnya yang berkaitan. Tergantung dari kebutuhan, pada tempat kerja yang luas, personil penilai dapat merupakan suatu tim yang terdiri dari beberapa orang.
2.      Menentukan obyek/bagian yang akan dinilai
Obyek atau bagian yang akan dinilai dapat dibedakan menurut bagian / departemen, jenis pekerjaan, proses produksi dan sebagainya. Penentuan obyek ini sangat membantu dalam sistematika kerja penilai.


3.      Kunjungan / Inspeksi tempat kerja
Kegiatan ini dapat dimulai melalui suatu “walk through survey / Inspection” yang bersifat umum sampai kepada inspeksi yang lebih detail. Dalam kegiatan ini prinsip utamanya adalah melihat, mendengar dan mencatat semua keadaan di tempat kerja baik mengenai bagian kegiatan, proses, bahan, jumlah pekerja, kondisi lingkungan, cara kerja, teknologi pengendalian, alat pelindung diri dan hal lain yang terkait.
4.      Identifikasi potensi bahaya
Berbagai cara dapat dilakukan guna mengidentifikasi potensi bahaya di tempat kerja, misalnya melalui :
-          inspeksi / survei tempat kerja rutin
-          informasi mengenai data keelakaan kerja dan penyakit, absensi
-          laporan dari (panitia pengawas Kesehatan dan Keselamatan Kerja) P2K3, supervisor atau keluhan pekerja
-          lembar data keselamatan bahan (material safety data sheet)
-          dan lain sebagainya
Selanjutnya diperlukan analisis dan penilaian terhadap potensi bahaya tersebut untuk memprediksi langkah atau tindakan selanjutnya terutama pada kemungkinan potensi bahaya tersebut menjadi suatu risiko.
5.      Mencari informasi / data potensi bahaya
Upaya ini dapat dilakukan misalnya melalui kepustakaan, mempelajari MSDS, petunjuk teknis, standar, pengalaman atau informasi lain yang relevan.
6.      Analisis Risiko
Dalam kegiatan ini, semua jenis resiko, akibat yang bisa terjadi, tingkat keparahan, frekuensi kejadian, cara pencegahannya, atau rencana tindakan untuk mengatasi risiko tersebut dibahas secara rinci dan dicatat selengkap mungkin. Ketidaksempurnaan dapat juga terjadi, namun melalui upaya sitematik, perbaikan senantiasa akan diperoleh.
7.      Evaluasi risiko
Memprediksi tingkat risiko melalui evaluasi yang akurat merupakan langkah yang sangat menentukan dalam rangkaian penilaian risiko. Kualifikasi dan kuantifikasi risiko, dikembangkan dalam proses tersebut. Konsultasi dan nasehat dari para ahli seringkali dibutuhkan pada tahap analisis dan evaluasi risiko.
8.      Menentukan langkah pengendalian
Apabila dari hasil evaluasi menunjukan adanya risiko membahayakan bagi kelangsungan kerja maupun kesehatan dan keselamatan pekerja perlu ditentukan langkah pengendalian yang dipilih dari berbagai cara seperti :
a.       Memilih teknologi pengendalian seperti eliminasi, substitusi, isolasi, engineering control, pengendalian administratif, pelindung peralatan/mesin atau pelindung diri.
b.      Menyusun program pelatihan guna meningkatka pengetahuan dan pemahaman berkaitan dengan risiko
c.       Menentukan upaya monitoring terhadap lingkungan / tempat kerja.
d.      Menentukan perlu atau tidaknya survailans kesehatan kerja melalui pengujian kesehatan berkala, pemantauan biomedik, audiometri dan lain-lain.
e.       Menyelenggarakan prosedur tanggap darurat / emergensi dan pertolongan pertama sesuai dengan kebutuhan.
9.      Menyusun pencatatan / pelaporan
Seluruh kegiatan yang dilakukan dalam penilaian risiko harus dicatat dan disusun sebagai bahan pelaporan secara tertulis. Format yang digunakan dapatdisusun sesuai dengan kondisi yang ada.
10.  Mengkaji ulang penelitianPengkajian ulang perlu senantiasa dilakukan dalam periode tertentu atau bila terdapat perubahan dalam proses produksi, kemajuan teknologi, pengembangan informasi terbaru dan sebagainya, guna perbaikan berkelanjutan penilaian risiko tersebut.

FB Comment's Box

TSM - Cara Kerja Mesin 2 Tak Bensin

Saturday, April 13, 2013


Pada postingan ini Pendidikan Teknik Mesin Universitas Sriwijaya akan Menerangkan Bagaimana Proses Kerja motor 2 Tak :D
Mesin 2 tak pada prinsipnya bekerja dengan 2 langkah piston atau 1 putaran poros engkol. Dalam satu siklus kerja mesin 2 tak hanya terdiri dari 1 kali gerakan naik dan 1 gerakan turun dari piston saja, berbeda dengan mesin 4 tak yang dalam satu siklus kerja mesin harus terdiri dari 2 gerak naik dan 2 gerak turun.

Untuk lebih jelasnya kalian pelajari dulu mesin 4 tak agar lebih mudah belajar dalam pembahasan mesin 2 tak , Tunggu Post Selanjutnya Yaa ;)



Dalam motor bensin 2 tak, piston melakukan 2 kali langkah kerja dalam 1 kali langkah usaha antara lain :


1. Langkah kompresi dan langkah hisap
Pada langkah ini dalam motor 2 tak terjadi 2 aksi berbeda yang terjadi secara bersamaan yaitu aksi kompresi yang terjadi pada ruang silinder atau pada bagian atas dari piston dan aksi hisap yang terjadi pada ruang engkol atau pada bagian bawah piston.
Yang terjadi dalam langkah ini adalah :

-Piston bergerak dari TMB (titik mati bawah) ke TMA (titik mati atas).
-Pada saat saluran pembiasan tertutup mulai dilakukan langkah kompresi pada ruang silinder.
-Pada saat saluran hisap membuka maka campuran udara dan bensin akan masuk ke dalam ruang engkol.

2. Langkah usaha dan buang
Dan pada langkah ini terjadi langkah usaha dan buang yang terjadi pada saat yang tidak bersamaan, jadi langkah usaha dahulu barulah setelah saluran pembiasan dan saluran buang terbuka terjadi langkah buang.

Yang terjadi dalam langkah ini adalah :
-Sebelum piston mencapai TMA (titik mati atas), busi akan memercikkan bunga api listrik sehingga campuran udara dan bahan bakar akar terbakar dan menyebabkan ledakan maka timbullah daya 
dorong terhadap piston, sehingga piston akan bergerak dari TMA (titik mati atas) ke TMB (titik mati bawah).

-Sesaat setelah saluran hisap tertutup dan saluran bias serta saluran buang membuka maka campuran udara dan bahan bakar yang berada di ruang engkol akan mendorong gas sisa hasil pembakaran melalui saluran bias ke saluran.

Mesin 2 tak harus memakai oli pelumas samping selain pelumas mesin hal ini di sebabkan karena putaran yang dihasilkan lebih cepat. Karena hanya membutuhkan 2 langkah kerja mesin 2 lebih cepat/kencang dari 4 tak hal ini menyebabkan mesin 2 tak lebih berisik, dan boros bahan bakar, jadi tidak ada mesin yang sempurna pasti ada kekurangannya. 

Oke jadi udah ngerti kan? Semoga bermanfaat ilmunya bagi semua civitas akademik khususnya HIMAPTEK Unsri. Sekian.

Termakasih.
Salam AKRAB HIMAPTEK



FB Comment's Box
Powered by Blogger.
 
© Copyright Welcome To Mechanical Engineering Edu. 2012 Blog .::University Of Sriwijaya Palembang 2012 -2016 | Powered by Blogger.

FKIP Universitas Sriwijaya Kampus Ogan Lt.2 Ruang 11. Jl.Lr. Ogan Bukit Besar Palembang, Sumatera Selatan.